A.
Pendahuluan
Setiap hari pada kehidupan manusia
pastinya tidak lepas dari sebuah hubungan atau interaksi yang timbul antara
orang satu dengan yang lainnya. Interaksi adalah kegiatan hubungan timbal balik
atau kerja sama yang sering dilakukan oleh manusia dalam berbagai bidang
kehidupan sehari-harinya. Interaksi itu tidak hanya dipicu oleh dorongan
kebutuhan ekonomis, biologis, emosional dan sebagainya yang mengikat dirinya,
melainkan juga sebagai fitrah yang tak terbantahkan pada dirinya[1].
Selain itu manusia diciptakan oleh Allah SWT ditakdirkan sebagai makhluk sosial
yang tidak dapat hidup sendiri dan selalu membutuhkan manusia lain dalam
menjalani hidupnya.
Sebagai makhluk sosial, manusia tidak
lepas dari berinteraksi dengan manusia lainnya. Sejatinya manusia dalam
memenuhi kebutuhan hidupnya tidak dapat dipenuhi sendiri, maka dari itu manusia
masih membutuhkan orang lain. Disamping manusia juga bersifat individual tetapi
manusia juga mempunyai kodrat sebagai makhluk sosial yang juga masih bergantung
kepada manusia yang lain. Jadi antara manusia yang satu dengan yang lain
mempunyai ikatan untuk saling melengkapi.
B.
Pengertian Interaksi Sosial
Manusia sejak dahulu terlahir sebagai
mahkluk sosial yang tidak dapat hidup dengan baik tanpa bantuan orang lain. Ada
beberapa pengertian tentang interaksi sosial menurut para ahli diantaranya :
a) Interaksi sosial adalah hubungan-hubungan sosial yang
dinamis yang berkaitan dengan orang perorangan, kelompok perkelompok, maupun
perorangan terhadap perkelompok ataupun sebaliknya[2].
b) Interaksi sosial adalah hubungan timbal balik antara
individu dengan individu, individu dengan kelompok, dan kelompok dengan
kelompok[3].
Dari pengertian dapat disimpulkan bahwa interkasi
sosial merupakan hubungan imbal balik yang terjadi antara orang yang satu
dengan yang lain ataupun kelompok yang satu dengn yang lain.
Terjadinya interaksi tidak berlangsung
begitu saja, tentunya ada unsur-unsur yang membentuk terjadinya interaksi
sosial. Yang pertama adanya dua orang atau lebih yang melakukan sebuah
kegaiatan interaksi, kemudian adanya hubungan imbal balik ataupun kerja sama
antar pelaku interaksi. Kemudian ketiga, terjadinya hubungan kontak sosial baik
secara langsung maupun tidak. Dan yang terakhir adanya maksud dan tujuan yang
jelas dalam proses interaksi tersebut.
Dalam interaksi sosial terdapat beberapa
syarat terjadinya interaksi, dapat dikatakan kegiatan interaksi jika memenuhi
dua syarat yaitu:
a) Kontak Sosial, yaitu hubungan atau kontak sosial antara
individu yang satu dengan yang lain maupun suatu kelompok dengan kelompok lain
yang bersifat langsung, seperti percakapan, tatap muka yang dimana di dalamanya
terjadi aksi dan reaksi antara kedua pihak.
b) Komunikasi, yaitu proses penyampaian pesan kepada orang
lain, baik secara langsung maupun melalui alat bantu agar orang lain dapat
memberikan tanggapan maupun respon.
C.
Bentuk-Bentuk Interaksi Sosial
Di dalam kegiatan interaksi sosial
terdapat beberapa bentuk interkasi, diantaranya yaitu Asosiatif dan Disosiatif.
a) Asosiatif : Interaksi sosial yang bersifat asosiatif
merupakan interaksi yang mengarah pada bentuk kesatauan. Dalam interaksi in
terdapat beberapa hal, diantaranya:
·
Kerja sama (cooperation):
kerja sama terjalin karena masyarakat menyadari bahwa mereka memiliki tujuan
atau kepentingan yang sama.
·
Akomodasi:
Penyesuaian/adaptasi individu mupun kelompok untuk mencegah terjadinya
ketegangan dan kekacauan.
·
Asimilasi: usaha mengurangi
perbedaan di kalangan individu ataupun kelompok agar dapat menyamakan tindakan
dalam mendapai tuuan bersama.
·
Akulturasi: Proses sosial yang timbul, apabila suatu
kelompok masyarakat manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan dengan
unsur - unsur dari suatu kebudayaan asing sedemikian rupa sehingga lambat laun
unsur - unsur kebudayaan asing itu diterima dan diolah ke dalam kebudayaan
sendiri, tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian dari kebudayaan itu sendiri[4].
b) Disosiatif
Interaksi sosial disosiatif
ini lebih mengarah pada pemisahan yang terbagi ke dalam tiga bentuk interkasi:
·
Persaingan atau Kompetensi :
suatu perjuangan yang dilakukan oleh indovodu maupun kelompok untuk memperoleh
keberhasilan tanpa menjatuhkan pihak lawan.
·
Kontraversi : Merupakan pertentangan
dalam perbedaan yang dapat menimbulkan tindakan menghasust, memfitnah
berkhianat dan memprovokasi.
·
Konflik: Adalah proses sosial
antar perorangan atau kelompok masyarakat tertentu, akibat adanya perbedaan
paham dan kepentingan yang sangat mendasar, sehingga menimbulkan adanya semacam
gap atau jurang pemisah yang mengganjal interaksi sosial di antara mereka yang
bertikai tersebut[5]. Koflik ini
biasanya berawal dari suatu perbedaan atau permasalahan kecil yang melebar
sehingga memutuskan interaksi diantara mereka.
D.
Masalah-Masalah yang Terjadi dalam Interaksi Sosial
Masyarakat Indonesia merupakan
masyarakat yang majemuk terdiri dari berbagai macam keragaman. Dan tentunya
dalam berinterkasi yang berasal dari berbagai perbedaan seringkali terjadi
perbedaan yang dapat memicu terjadinya sebuah gesekan antar masyarakat. Dalam
Bidang budaya contohnya, timbulnya perbedaan akibat persilangan budaya. Di abad
ke-21 ini, yang dikenal dengan era trasnparansi atau era lintasbatas
(globalisasi) yang ditandai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi
telah berdampak pada perubahan perilaku sosial masyarakat[6].
Salah satu konsekuensi yang timbul
akibat arus perkembangan globalisasi adalah silang budaya antar budaya lain,
yang kemudian berdampak pada persentuhan kebudayaan. Dalam pencapaian tujuan
bersama yang dilakukan oleh berbagai kalangan yang berbeda tentunya tak semudah
yang dibayangka. Pastinya terdapat rintangan-rintanagn dalm interaksi sosial
tersebut.
a) Etnosentrisme: merupakan kecenderungan menilai suatu adat
atau kebudayaan dengan budaya dan adat nya sendiri. Etnosentrisme ini membuat
patoak yang menjadi penilaian adat kebudayaan adalah dari adat kebudayaan
sendiri.
b) Misunderstanding of culture values: Pluralitas dan
keragaman antar suku, bangsa, agama dan budaya dalam pemahaman kerangkan
kesatuan manusia menciptakan sikap-sikap moderat bagi setiap individu[7],
pada suatu sisi ini akan memunculkan gesekan permasalahan yang memunculakn
sifat egois.
c) Stereotip adalah mengidentifikasi individu pada basis
anggota kelompok tertentu, dan menilai diri individu tersebut. Berdasarkan
pemahaman stereotip di atas, Maka ketika kita melakukan kontak antarbudaya
dengan seseorang, pada dasarnya kita sedang berkomunikasi dengan identitas
etnis dari individu tersebut[8].
d) Prasangka: Penghambat interkasi selanjutnya yaitu
prasangka yang teralalu berlenih-lebihan dan akhirnya menimbulkan dampak yang
negatif. Prasangka juga menimbulkan emosionla jika prasangka tersebut dianggap
kontradiktif.
E.
Konsep Interaksi Sosial
Dalam penelitian ini,
pendekatan yang digunakan adalah interaksionisme simbolik, dimana setiap
individu yang melakukan interaksi tentunya memiliki makna dibalik aktivitas
tersebut. Herbert Blumer dan George Herbert Mead merupakan orang-orang pertama
yang mendefinisikan teori interaksionisme simbolik. Blumer mengemukakakn tiga
prinsip utama interaksionisme simbolik, yaitu tentang pemaknaan (meaning),
bahasa (language), dan pikiran (thought). Prinsip utama ini nantinya akan
mengarah kepada konsep “diri” seseorang dan sosialisasinya kepada “komunitas”
yang lebih besar, masyarakat (Griffin, 2003) Blumer mengajukan prinsip pertama
bahwa human act toward people or things on the basis of the meanings they
assign to those people or things. Manusia berbuat atau berperilaku terhadap
manusia yang lainnya biasanya dilandasi atas sebuah pemaknaan yang mereka
sendiri dipakaikan kepada pihak lain tersebut. Prinsip kedua yang Blumer
ungkapkan adalah meaning arises out of the sosial interaction that people have
with each other. Sebuah makna akan muncul dari interaksi sosial yang bertukar
secara alamiah diantara kedua orang yang sedang saling berinteraksi..
Jika kita ingin memahami seseorang, maka kita harus mendasarkan
pemahaman terhadap apayang mereka lakukan. Terdapat 3 hal yang sangat penting
dalam kontruksi interaksi simbolik adalah :
i.
Fokus pada hubungan/interaksi pelaku
dan dunia, disni jika kita ingin memahami interaksi seseorang, maka harus kita
analisis hubungan pelaku tersebt dengan lingkunag sekitarnya.
ii.
Mempunyai cara pandang bahwa dunia
dan pelaku sebagai proses yang dinamis, serta bukanlah struktur yang statis.
iii.
Nilai yang dilekatkan kepada pelaku
dalam menginterpretasikan dunia dan masyarakat.
F. Model Interaksi Sosial
Model interaksi sosial adalah suatu model hubungan menekankan
interaksi antara individu yang satu dengan yang lainnya. Model ini beranjak
pada manusia yang selalu membutuhkan manusia lainnya, dan pada model lebih
luasnya yaitu interkasi manusia dengan suatu masyarakat.
Model
interaksi sosial didasarkan pada 2 hipotesis pokok :
a)
Model
masalah sosial yang dapat dicarikan solusinya dengan melibatkan
musyawarah/diskusi kelompok.
b)
Proses
sosial yang butuh dikembangkan dalam upaya perbaikan kehidupan sosial
masyarakat yang terarah dan bersikenambungan.
DAFTAR PUSTAKA
https://journal.untar.ac.id/index.php/jstupa/article/view/6776/5383
WADAH INTERAKSI SOSIAL Yonathan Yoel Mulyadi 1), Franky
Liauw 2)
https://journal3.uin-alauddin.ac.id/index.php/diskursus_islam/article/view/6642/5402
INTERAKSI SOSIAL DALAM MASYARAKAT MULTIETNIS Asrul Muslim
Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Alauddin Makassar Jalan Sultan Alauddin
No. 36 Samata-Gowa
https://jurnal.kominfo.go.id/index.php/komunika/article/view/1486
Ibid., h. 87.
Elly M Setiadi & Usman Kolip,
Pengantar Sosiologi. Pemahaman Fakta dan Gejala Permasalahan Sosial: Teori,
Aplikasi, dan Pemecahannya.(Cet. II; Jakarta: Kencana, 2011) h. 63
Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu
Pengantar. (Cet. Ke-43; Jakarta: Rajawali Press, 2010) h. 55
Jabal Tarik Ibrahim, Sosiologi Pedesaan
(Cet. I; Malang: Universitas Muhammadiyah Malang, 2003) h. 22
J. Swi Narwoko & Bagong Suyanto,
Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan (edisi keempat, Cet. Ke-5; Jakarta:
Kencana, 2011) h. 65-71
J. Swi Narwoko & Bagong Suyanto,
Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan (edisi keempat, Cet. Ke-5; Jakarta:
Kencana, 2011) h. 65-71
Ibid., h. 93
Turnomo Raharjo, op. cit., h. 57., lihat
juga Stewart L. Tubs dan Sylvia Moss, op. cit., h. 256.
[1] Ibid., h. 87.
[2] Elly M Setiadi & Usman Kolip,
Pengantar Sosiologi. Pemahaman Fakta dan Gejala Permasalahan Sosial: Teori,
Aplikasi, dan Pemecahannya.(Cet. II; Jakarta: Kencana, 2011) h. 63
[3] Soerjono Soekanto, Sosiologi
Suatu Pengantar. (Cet. Ke-43; Jakarta: Rajawali Press, 2010) h. 55
[4] Jabal Tarik Ibrahim, Sosiologi Pedesaan
(Cet. I; Malang: Universitas Muhammadiyah Malang, 2003) h. 22
[5] J. Swi Narwoko & Bagong Suyanto,
Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan (edisi keempat, Cet. Ke-5; Jakarta:
Kencana, 2011) h. 65-71
[6] J. Swi Narwoko & Bagong Suyanto,
Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan (edisi keempat, Cet. Ke-5; Jakarta:
Kencana, 2011) h. 65-71
[7] Ibid., h. 93
[8] Turnomo Raharjo, op. cit.,
h. 57., lihat juga Stewart L. Tubs dan Sylvia Moss, op. cit., h. 256.